Sejarah

Seperti yang kita ketahui bahwa kemajuan dalam segala hal selalu bergerak secara dinamis dan cepat, di satu sisi hal tersebut berdampak positif bagi kemajuaan umat, bangsa dan negara tetapi disisi lain juga sebagai fasilitator atas pengaruh negatif yang tidak sesuai dengan moral bangsa Indonesia  sehingga pada akhirnya banyaklah panyimpangan yang terjadi di masyarakat.

Dengan alasan inilah seorang tokoh yang bernama KH. NAWAWI ABDUL AZIZ yang merupakan salah satu tokoh yang disegani oleh para HUFFADZUL QUR’AN dalam bidang Tahfidzul Qur’an dan Qiro’ah As Sab’ah berusaha membangun tembok untuk membentengi masyarakat dari segala bentuk dampak negatif yang telah menjamur di masyarakat.

Tidak lain dengan niat agar masyakarat dapat menikmati jalan yang lurus sehingga dapat selamat di dunia dan akhirat. Maka, sekitar tahun 1978 M didirikanlah oleh beliau Pondok Pesantren An Nur yang saat ini telah tumbuh menjadi Yayasan Al Ma’had An Nur. Pendirian Pondok Pesantren ini melewati beberapa periode :

Periode Perintisan ( 1964-1978 )

Perintisan Pondok Pesantren An Nur mengalami proses yang sangat panjang yang dimulai pada tahun 1960 M. Beliau ( Bapak KH. Nawawi Abdul Aziz ) dipercaya untuk menjabat ketua Pengadilan Agama Kab. Bantul, kemudian sejak bertugas di PA Bantul, beliau mengetahui secara persis tentang kehidupan keagamaan di wilayah Bantul, dimana kondisi pada saat itu masih memprihatinkan. Melihat kenyataan yang demikian.

Beliau merasa sudah saatnyalah mengamalkan dan mengajarkan Ilmu yang pernah didapat dari tempaan Pondok-Pondok Pesantren yang pernah Beliau terima kepada masyarakat, sehingga pada tahun 1964 M,  dengan tekat yang bulat dan mantap Beliau pindah ke dusun Ngrukem Pendowoharjo Sewon Bantul Yogyakarta yang didampingi oleh Istri Beliau ( Ibu Nyai. Walidah Munawwir ) dan Putra pertama Beliau ( ‘Ashim Nawawi ).

Walaupun Beliau dan keluarga hanya menempati sebuah rumah yang berukuran 7×5 m milik Al Marhum Bapak KH. Abdul Aziz, Beliau tetap semangat dan Ikhlas dalam mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat, sehingga dalam waktu yang singkat Beliau telah mampu menarik hati masyarakat. Pada tahun tersebut, Beliau mulai merintis pengajian-pengajian baik yang bersifat kuliah umum, sorogan, bandungan maupun klasikal.

Pengajian/Kuliah umum diselenggarakan setiap senin malam yang sampai saat ini masih berjalan dan dikenal dengan sebutan pengajian “malam selasan” dan setiap jumat pagi. Sedangkan setiap subuh diadakan pengajian dengan sistim sorogan dan klasikal dengan materi Al Qur’an. sedangkan pada malam hari berlangsung kegiatan belajar di Madrasah Diniyah yang dulu bernama Madrasah Lailiyah Salafiyah An Nur yang sejak tahun 1976 pengelolaannya diserahkan kepada Bapak KH. Khudlori Abdul Aziz, santri Beliau yang merupakan putra asli Dusun Ngrukem.

Seiring dengan bergeraknya waktu, santri yang datang juga semakin banyak sehingga sangatlah perlu untuk membangun asrama bagi semua santri yang ada. Maka dengan segenap kemampuan yang dimiliki, dan atas dukungan dari masyarakat yang dipelopori oleh Al Marhum bapak KH. Anwar, dibangunlah asrama pondok Pesantren An Nur dengan beberapa lokal.

Periode Pertumbuhan

Berhubung kebanyakan santri yang datang pada saat itu adalah putri maka yang pertama dibangun adalah asrama bagi santri putri. Pada hari Ahad Pon tanggal 18 April 1976 M diadakanlah rapat antara Bapak KH. Nawawi Abdul Aziz, KH Ahmad Badawi Kholil dan Para Sesepuh untuk membahas pembangunan tersebut.

Kemudian pada hari Ahad tanggal 12 September 1976 M yang bertepatan dengan 17 Romadlon 1396 H dimulailah pembangunan tersebut yang akhirnya selesai pada bulan April 1978 M, dan sejak saat itulah secara resmi Pondok Pesantren An Nur Berdiri. Selang beberapa waktu, jumlah santri putra sudah bertambah banyak sehingga dibangunlah dua kamar (yang sekarang telah dibongkar dan diganti dengan asrama yang baru berlantai tiga).

Periode Perkembangan

Dari hari ke hari jumlah santri yang belajar di sini mengalami peningaktan pesat, sehingga dibutuhkan terobosan-terobosan yang baru untuk mengimbangi jumlah santri yang terus bertambah sehingga terciptalah suasana belajar yang kondusif yang pada akhirnya, proses transformasi ilmu Agama dapat berjalan dengan lancar.

Wahana pendidikan ini semakin lama semakin dikenal oleh masyarakat sehingga tidaklah mengherankan jika dalam waktu tiga tahun, santri yang belajar di Pondok ini telah mencapai 300 orang yang 70 persennya adalah penghafal Al Qur’an. Pada tahun tersebut juga dibangun asrama santri putra berlantai tiga dengan 18 kamar yang dilengkapi dengan Musholla, dapur, sumur kamar mandi dan wc, perpustakaan serta aula.

Keadaan tersebut terus maju dengan dinamis dan berkesinambungan. Sampai saat ini, Pondok Pesantren An Nur telah berbenah diri dengan fasilitas yang memadai. Hal tersebut sangatlah mendukung bagi tercapainya tujuan utama Pondok Pesantren An Nur yaitu :

  1. Mencetak generasi Huffadzul Qur’an yang mampu menjunjung tinggi warisan Nabi serta mengamalkannya.
  2. Membangun kemampuan santri yang berjiwa IMTAQ dan berwawasan IPTEK.
  3. Membangun santri yang berakhlaqul karimah, bertaqwa, bermental kuat dan bertanggungjawab.

Sebagai pemenuhan kebutuhan primer santri atas sarana dan prasarana serta sebagai mediator demi tercapainya tujuan tersebut di atas, Pondok Pesantren An Nur selalu berusaha terus untuk membangun, merenovasi dan menambah lokal yang telah ada. Hingga saat ini, Lembaga Pendidikan yang bernaung dibawah Yayasan Al Ma’had An Nur antara lain :

  1. Madrasah Diniyah Al Furqon ( 1989 M )
  1. Taman Pendidikan Al Qur’an ( T P Q ) ( 1994 M )
  1. Madrasah Tsanawiyah ( M Ts ) ( 1994 M )
  1. Madrasah ‘Aliyah Umum ( M A U ) / IPS dan IPA ( 1997 M )
  1. Madrasah ‘Aliyah Keagamaan ( M A K ) / PK  ( 1999 M )
  1. Sekolah Tinggi Ilmu Al Qur’an ( S T I Q ) AN NUR, dengan 2 prodi yaitu Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Tafsir Hadits (TH) ( 2002 M )