Pesantren; an overview

No comment 86 views

Pesantren sesungguhnya adalah sebuah masterpiece dalam hal model pendidikan. Ia merupakan sebuah “komunitas” yang menghimpun keberagaman dalam banyak sisi. Dari pemaknaan ini tentu akan mencakup lembaga-lembaga (non pesantren) lainnya yang memiliki karakteristik sama. Sehingga perlu pemaknaan yang lebih mengerucut dan adaptif terhadap kata ‘pesantren’ tersebut, yakni kecenderungan coraknya sebagai sebuah wadah menimba ilmu agama Islam.

Embrio model pendidikan pesantren sesungguhnya sudah ada sejak masa Nabi Muhammad SAW. Para sahabat yang kondang dikenal dengan sebutan ‘ahlu al-shuffah’ merekalah para santri mukim dalam ‘pesantren Nabi’. Adapun sahabat-sahabat lain dalam terminologi dunia pesantren masa kini disebutlah sebagai ‘santri kalong/nglaju’.

Dari klasifikasi santri dalam analogi pesantren Nabi ini tentu ada perbedaan mendasar, antara lain dilihat dari segi intensitas kedekatan mereka terhadap kyai – dalam hal ini Nabi- sehingga berimplikasi terhadap muatan ilmu dan hasil periwayatan yang berbeda di antara dua kategori ‘santri’ tersebut. Sebutlah misalnya sahabat Abu Hurairah yang mampu meriwayatkan 5.374 hadis dan tercatat sebagai sahabat yang paling banyak meriwayatkan dari Nabi Muhammad.

Dalam konteks modern -di bawah nahkoda para ulama- pesantren dengan tetap menonjolkan karakter tarbiyah diniyyahnya diformat ulang dalam bentuk yang lebih mewadahi kebutuhan dan perkembangan zaman.

Maka pada masa sekarang kita temukan banyak sekali pesantren yang dalam kurikulumnya tidak hanya memuat ilmu-ilmu agama Islam namun juga ilmu-ilmu umum, mencakup pengetahuan alam dan sosial. Bahkan, ilmu-ilmu terapan yang bermanfaat bagi pengembangan skill para santri untuk kelak didayagunakan dalam peran mereka dalam kancah kemasyarakatan.

Pada hakikatnya, tujuan pendidikan yang hendak dicapai semua lembaga pesantren adalah sama. Fokusnya adalah kematangan spiritual, mental-emosional, serta intelektual para santri. Namun dalam penerapannya, masing-masing lembaga berbeda, karena tidak ada aturan baku untuk pesantren.

Dimana pada umumnya alur keberlangsungan model pendidikan pesantren itu dirancang sendiri oleh sang pendiri pesantren, pengasuh, ataupun berdasar pada mufakat dewan asatidz dan sebagainya.

Penulis teringat pada bait nadzam Alala berikut:

فذاك مربي الروح والروح جوهر #  وهذا مربي الجسم والجسم كالصدف

Bahwa pendidikan di pesantren lebih diistilahkan pada tarbiyah bukan sekedar ta’lim. Karena tujuan dari pembelajaran pesantren bukan sekedar mentransfer pengetahuan secara lahiriah semata. Namun lebih besar dari itu, yakni pembibitan sebuah generasi yang tangguh, melalui pemahaman keilmuan dan dasar agama yang kuat, pembentukan karakter, keteladanan, pembiasaan, serta barokah do’a. Yang disebut terakhir ini bahkan beberapa mengatakan sebagai “jimat” seorang santri.

Umumnya para santri sangat percaya pada barokah do’a guru sebagai penentu suksesnya kelak ketika sudah tidak lagi bermukim di pesantren dan mulai berkecimpung dalam dunia masyarakat. Sekalipun secara intelektual sedikit kurang, tetapi jika selama di pesantren sungguh-sungguh berkhidmah pada kyai dan pesantren, maka dipercaya keberkahan itulah yang akan menjadi penentu kesuksesan santri diluar pesantren.

Maka disebutlah pada nadzam Alala di atas, guru/kyai sebagai murabbi al-ruh, pendidik ruhani. Kita tentu tidak asing dengan kisah-kisah para ulama yang dalam kesehariannya selain mengajarkan ilmu pada para santri, beliau-beliau membalutnya pula dengan tirakat bathiniyah, do’a, amalan wirid, puasa, dan sebagainya yang diniatkan untuk kesuksesan para santrinya.

Sesungguhnya itu merupakan keteladanan dan tarbiyah ruhani yang sungguh luar biasa, yang seyogyanya ditindaklanjuti oleh para santri dengan do’a yang tidak pernah putus teruntuk para masyayikh, asatidz, serta mengikuti dan melaksanakan amaliyah serupa yang beliau-beliau contohkan. Mengapa demikian? Karena santri lah pemegang estafet keilmuan yang diturunkan oleh para masyayikh.

Ketika posisinya masih sebagai santri maka kewajibannya adalah menuntut ilmu dengan sebaik-baiknya. Kemudian saat ia sudah memiliki ilmu maka kewajibannya adalah mengamalkan dan menyampaikannya. Begitulah mata rantai keilmuan sebagaimana yang diwariskan Nabi Muhammad SAW kepada para sahabat, dan berlanjut hingga akhir zaman.

Bagi penulis sendiri, tentu dengan kacamata objektif, menjadi santri sesungguhnya merupakan predikat istimewa.  Mengacu pada opini masyarakat yang menganggap bahwa santri itu “serba bisa”, maka tentu merupakan sebuah konsekuensi yang berat dan penuh tantangan. Tapi sebagaimana yang didhawuhkan KH. Abdul Karim Lirboyo, bahwa santri harus mampu hidup sebagaimana filosofi sebuah paku.

Beliau mengibaratkan seperti membangun sebuah bangunan dengan material yang beragam, kayu yang berbeda panjang pendeknya, namun bagaimana caranya agar dapat terikat dan disatukan dengan kokohnya paku hingga berdiri sebuah bangunan yang bisa menjadi tempat berteduh siapa saja. Dalam arti bahwa santri harus mampu menjadi penengah, pengikat di tengah keragaman masyarakatnya, yang mungkin saja dalam beberapa hal status keberadaannya tak tampak, tapi ia memiliki peran di balik harmonisasi yang terwujud dalam masyarakat.

Dengan predikat istimewa itu, maka penulis katakan bahwa semua proses yang dilalui santri selama di pesantren adalah pelajaran dan pembelajaran yang luar biasa. Semua detailnya adalah hikmah, yang bisa jadi rahasianya akan terkuak dalam arti mampu dipahami oleh santri kelak ketika sudah hidup ditengah-tengah masyarakat.

Kembali pada prinsip penting belajar lagi

التعلم في الصغر كالنقش على الحجر # التعلم في الكبر كالنقش على الماء

“belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu, sedangkan belajar di waktu besar bagai mengukir di atas air”

Pemahaman sekaligus kesimpulan dari catatan kecil dunia pesantren ala penulis ini adalah bahwa pembelajaran itu tidak melulu berkutat di kelas. Setiap peristiwa yang kita lalui adalah pelajaran, setiap orang yang kita jumpai adalah pelajaran, maka ambil hikmah dan tangkap nasihat dari segala hal tersebut.

Terlebih jika seseorang diberikan anugerah hidup di pesantren, sekalipun hanya mencicip sesaat masa tersebut, jika ia menjalaninya sungguh-sungguh maka cukuplah segala pembelajaran kehidupan yang ia dapati di pesantren itu sebagai bekal kelak mengarungi masa depan.

Dalam pandangan sekelompok kecil orang, model pendidikan di pesantren itu keras, banyak tuntutan dan sebagainya. Namun bagi orang yang berpandangan visioner, tentu mengatakan bahwa pembentukan karakter sejak dini ala pesantren itu atsar (bekas)nya sangat kuat kelak di kemudian hari.

Maka, ayo gerakkan! Mari gaungkan! bahwa jadi santri itu keren! ^_^

SALAM SANTRI! SALAM NKRI!

*Khusnia Nurdaniati (Alumni PP. An Nur)

Tags:
No Response

Leave a reply "Pesantren; an overview"