RISALAH PUASA

No comment 166 views

PENGERTIAN PUASA
الصوم لغة الإمساك وشرعا إمساك عن المفطرات على وجه مخصوص (الياقوت النفيس في مذهب ابن إدريس ص: ٦٤)
Puasa menurut bahasa memiliki arti menahan. Sedang menurut istilah syara’, puasa adalah menahan dari hal-hal yang membatalkannya sesuai dengan cara yang telah ditentukan.

SYARAT-SYARAT WAJIB PUASA
شروط وجوب الصوم خمسة الإسلام والتكليف والإطاقة والصحة والإقامة (الياقوت النفيس في مذهب ابن إدريس ص: ٦٤)
Syarat-syarat wajib puasa ada lima;
Islam
Orang islam wajib menjalankan puasa, meskipun keislamannya pada masa lalu, seperti orang yang murtad. Maka dari itu ketika orang murtad kembali kepada islam, maka ia wajib mengqodho’nya. Berbeda dengan orang kafir yang asal, karena ketika ia masuk islam, ia tidak wajib mengqodho’nya.
Mukallaf
Mukallaf yaitu orang yang sudah baligh dan berakal. Sehingga anak kecil, orang gila, orang yang epilepsi dan orang yang mabuk tidak wajib berpuasa.
Namun, bagi orang gila dan orang yang mabuk diwajibkan mengqodho’ puasanya apabila gila dan mabuknya ada unsur keteledoran. Apabila tanpa ada unsur keteledoran, maka tidak wajib mengqodho’ puasanya. Berbeda dengan orang yang epilepsi, karena ia secara muthlak (teledor atau tidak) tetap wajib mengqodho’ puasanya.
Mampu
Yang dimaksud mampu disini adalah mampu secara hissy (realitas) dan secara syar’i, sehingga mengecualikan orang yang tidak mampu secara hissy seperti orang yang yang sudah lanjut usia dan orang yang tidak mampu secara syar’i seperti wanita yang haid dan wanita yang nifas.
Sehat.
Bagi orang yang sakit diperbolehkan untuk tidak berpuasa dengan syarat jika ia berpuasa dapat mengakibatkan lama sembuhnya atau sakitnya bisa bertambah parah.
Mukim.
Mukim artinya tidak dalam perjalanan. Sehingga orang yang sedang dalam perjalanan diberi keringanan untuk tidak berpuasa jika jarak perjalanannya mencapai batas diperbolehkan untuk mengqoshor sholat dan perjalanannya tidak ada unsur kemaksiatan.

RUKUN-RUKUN PUASA
أركان الصوم ثلاثة النية وترك المفطرات والصائم (الياقوت النفيس في مذهب ابن إدريس  ص: ٦٤)
Rukun-rukun puasa ada tiga;
Niat
Niat puasa sebagaimana ibadah-ibadah yang lain dilakukan di dalam hati, bukan di lisan. Adapun pengucapan lafadz niat dengan lisan itu hukumnya adalah sunnah. Niat puasa fardhu harus dilaksanakan di malam hari sebelum terbitnya fajar. Berbeda dengan puasa sunnah, karena dalam niat puasa sunnah diperbolehkan dilaksanakan pada pagi harinya sebelum tergelincinya matahari, sebelum masuk waktu dhuhur. Untuk niat puasa Ramadhan wajib dilaksanakan pada setiap malamnya. Berikut adalah lafadz niat puasa Ramadhan yang sempurna;
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هٰذِهِ السَّنَةِ لِلّٰهِ تَعَالَی
“Saya berniat puasa besok untuk menunaikan kewajiban bulan Ramadhannya tahun ini karena Allah Ta’ala”.
Meninggalkan hal-hal yang membatalkan puasa.
Sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari, seorang yang berpuasa diharuskan untuk menjaga dari hal-hal yang bisa membatalkan puasanya.
Shoim (pelaku puasa)
Sebagian ulama’ menjadikan shoim sebagai rukun. Dikarenakan ibadah puasa bentuknya tidak terlihat secara kasat mata. Sehingga sebagian ulama menganggap perlu memasukkan shoim sebagia rukun. Berbeda dengan sholat, karena bentuk ibadah sholat sudah terlihat secara kasat mata. Maka para ulama’ tidak menjadikan musholli (pelaku sholat) sebagai rukun.

SYARAT-SYARAT SAH PUASA
شروط صحة الصوم أربعة الإسلام والعقل والنقاء من الحيض والنفاس والعلم بكون الوقت قابلا للصوم (الياقوت النفيس في مذهب ابن إدريس  ص: ٦٥)
Syarat-syarat sah puasa ada empat;
Islam.
Orang kafir tidak sah menjalankan ibadah puasa. Sama saja kafirnya secara asal atau kafir yang baru seperti orang yang murtad.
Akal
Yang dimaksud akal disini adalah tamyiz. Sehingga anak kecil yang sudah tamyiz, meskipun belum baligh, puasanya dihukumi sah.
Suci dari haid dan nifas.
Wanita yang sedang haid atau nifas, puasanya tidak sah. Bahkan dihukumi haram jika disertai dengan niat puasa.
Mengetahui keberadaan waktu tersebut dapat digunakan
untuk berpuasa.
Seorang yang hendak menjalankan puasa harus mengetahui waktu yang diperbolehkan untuk berpuasa. Dalam arti, waktu yang tidak diharamkan untuk berpuasa, seperti dua hari raya dan tiga hari tasyriq.

SUNNAH-SUNNAH PUASA
سنن الصوم كثيرة منها تعجيل الفطر وتأخير السحور والإفطار على التمر وإكثار القرآن والصدقة في رمضان (الياقوت النفيس في مذهب ابن إدريس  ص: ٦٥)
Sunnah-sunnah puasa ada banyak. Diantaranya adalah;
Menyegerakan berbuka.
Kesunnahan menyegerakan berbuka ini jika ia sudah yakin akan masuknya waktu maghrib (terbenamnya matahari). Namun jika ia masih ragu, maka ia tidak diperbolehkan untuk menyegerakan berbuka. Disamping kesunnahan ini,   disunnahkan pula membaca doa setelah berbuka;
أَللّٰهُمَُ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَی رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاء اللّٰهُ
“Ya Allah, hanya karena-Mu aku berpuasa, hanya kepada-Mu aku beriman dan hanya karena rizki-Mu aku berbuka. Telah hilanglah dahaga dan telah basahlah kerongkongan. Semoga ada pahala yang ditetapkan, jika Allah menghendaki”.
Meangakhirkan sahur.
Termasuk kesunnahan-kesunnahan puasa adalah makan sahur. Dan waktu yang paling utama untuk sahur adalah mendekati waktu terbitnya fajar, yaitu antara waktu sahur dengan terbitnya fajar sekitar berdurasi waktu yang memuat bacaan 50 ayat.
Berbuka dengan kurma.
Disunnahkan untuk berbuka dengan kurma basah. Jika tidak menemukannya, maka bisa dengan kurma kering. Minimal satu kurma, dan yang paling utama adalah dengan tiga kurma. Jika tidak menemukan kurma, maka disunnahkan berbuka dengan air.
Memperbanyak membaca Al-Qur’an.
Di bulan Ramadhan seseorang yang berpuasa dianjurkan untuk memperbanyak amal-amal ibadah, diantaranya adalah membaca Alqur’an. Sama saja membacanya sendirian atau secara mudarosah, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Nabi SAW bersama malaikat Jibril AS. Dan bagi orang yang berpuasa disunnahkan pula untuk menjauhi kata-kata yang tidak baik, seperti berbohong, menggunjing dsb. Karena hal itu dapat menghilangkan pahala puasa.
Shodaqoh.
Berbagi rizki dan menolong orang lain adalah suatu hal yang dianjurkan oleh agama. Sehingga di bulan Ramadhan yang pahala dilipat gandakan, Nabi sangat menganjurkan akan hal-hal tersebut; bershodaqoh, memberikan nafkah yang lebih kepada keluarga, berbuat baik kepada kerabat dan tetangga dsb.
.
.
Bersambung : Risalah Puasa #2

Tags:
No Response

Leave a reply "RISALAH PUASA"